Mu’awiyah
bin Abi Sufyan radhiallahu'anhuma adalah salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam yang mulia. Beliau dilahirkan 15 tahun sebelum
peristiwa hijrah. Mengikut pendapat yang lebih tepat, beliau memeluk
Islam setelah Perjanjian Hudaibiyah, yaitu antara tahun 6 hingga 8
hijrah. [Maulana M. Asri Yusoff – Sayyidina Mu’awiyah: Khalifah
Rashid Yang Teraniaya (Pustaka Bisyaarah, Kubang Kerian, 2004). Dalam
sebuah hadits yang dinilai sahih oleh Syaikh Al-Albani rahimaullah,
Rasulullahu shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mendoakan
Mu’awiyah: “Ya Allah! Jadikanlah beliau orang yang memimpin
kepada hidayah dan berikanlah kepada beliau hidayah.” [Silsilah
Al-Ahadits Al-Shahihah hadits no: 1969]
Al-Imam Al-Bukhari meriwayatkan di dalam kitab Shahihnya hadits 2924 bahwa
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Pasukan
pertama daripada golongan umatku yang berperang di laut, telah
dipastikan bagi mereka (tempat di syurga).” Fakta sejarah
mencatatkan bahwa armada laut yang pertama bagi umat Islam dipimpin
oleh Mu’awiyah pada zaman pemerintahan ‘Utsman bin Affan
radhiallahu ‘anhu.
Di
dalam Shahih Muslim no: 2501, Abu Sufyan pernah meminta kepada
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam agar Mu’awiyah menjadi
jurutulis baginda. Rasulullah memperkenankan permintaan ini. Sejak
itu Mu’awiyah menjadi juru tulis al-Qu’ran dan surat-surat
Rasulullah, sekaligus menjadi orang yang dipercayai di sisi beliau.
Mu’awiyah
juga merupakan seorang sahabat yang dihormati oleh para sahabat yang
lain. Beliau diangkat menjadi gubernur di Syam semasa zaman
pemerintahan ‘Umar dan ‘Utsman. Pada zaman pemerintahan beliau
sendiri, pernah seorang mengadu kepada Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu
bahwa Mu’awiyah melaksanakan shalat witir dengan hanya satu rakaat.
Ibn Abbas menjawab: “(Biarkan), sesungguhnya dia seorang yang faqih
(faham agama).” [Shahih al-Bukhari – hadits no:3765]
Demikianlah
beberapa keutamaan Mu’awiyah yang sempat dinyatakan dalam tulisan
ini. Dapat dikenali bahwa beliau bukanlah sebarangan orang tetapi
merupakan salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam yang mulia.
Pendirian
Mu’awiyah tentang kekhalifahan Ali.
Saat
‘Utsman ibn Affan radhiallahu ‘anhu dibunuh , Ali bin Abi Thalib
diangkat menjadi khalifah. Beliau dibai’at oleh sebagian umat
islam. Ada sebagian lain yang tidak membai’at beliau, di antaranya
ialah Mu’awiyah. Hal ini terjadi bukan karena Mu’awiyah menafikan
jabatan khalifah Ali, akan tetapi Mu’awiyah menghendaki Ali
terlebih dahulu menjatuhkan hukuman qishas
ke atas pembunuh ‘Utsman. Al-Imam Ibn Hazm rahimaullah menjelaskan:
“Dan
tidaklah Mu’awiyah mengingkari sedikit pun keutamaan Ali dan hak
beliau untuk menjadi khalifah. Akan tetapi pada ijtihad beliau, perlu
didahulukan penangkapan ke atas para pembakar api fitnah daripada
golongan para pembunuh ‘Utsman radhiallahu ‘anhu daripada urusan
bai’at. Dan beliau juga berpendapat dirinya paling berhak untuk
menuntut darah ‘Utsman.” [al-Fishal, jilid. 3]
Di
sisi Ali bin Abi Thalib, beliau bukan sengaja membiarkan para
pembunuh ‘Utsman berkeliaran secara bebas. Malah beliau mengetahui
bahwa mereka menyamar diri dan berselindung di golongan umat Islam
serta berpura-pura membai’at beliau. Akan tetapi dalam suasana umat
Islam yang masih berpecah-belah, adalah sukar untuk beliau mengambil
apa-apa tindakan. Sebaliknya jika umat Islam bersatu, mudah baginya
untuk mengambil tindakan atas para pembunuh ‘Utsman.
Terjadinya
Perang Shiffin
Setelah
Perang Jamal berakhir, Ali bin Abi Thalib menghantar utusan kepada
Mu’awiyah meminta beliau berbai’at kepada dirinya. Mu’awiyah
menolak, sebaliknya mengulangi tuntutan beliau agar Ali mengambil
tindakan ke atas para pembunuh ‘Utsman. Jika tidak, Mu’awiyah
sendiri yang akan mengambil tindakan. Mendengar jawaban yang
sedemikian, Ali menyiapkan pasukannya dan mulai bergerak ke arah
Syam. Skenario ini menyebabkan Mu’awiyah juga mempersiapkan
pasukannya dan mula bergerak ke arah Kufah. Akhirnya kedua-dua
pasukan ini bertemu di satu tempat yang bernama Shiffin dan
bermulalah peperangan yang dikenali dengan Perang Shiffin.
Para
peneliti berbeda pendapat, kenapa Ali mempersiapkan pasukannya ke
arah Syam? Persoalan ini masih memerlukan penelitian yang mendalam
dengan mengambil kira faktor-faktor luar dan dalam yang ada
pada saat itu. Ali tidak akan mengambil
apa-apa tindakan melainkan ia adalah untuk kemaslahatan umat Islam
seluruhnya. Hal ini mengingatkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam yang meramalkan terjadinya Perang Shiffin:
“Tidak
akan datang Hari Kiamat sehingga dua golongan yang besar saling
berperang. Terjadi antara kedua-duanya pembunuhan yang dahsyat
padahal seruan kedua-duanya adalah satu (yakni kebaikan Islam dan
umatnya).” [Shahih Muslim – hadits no: 157]
Mu’awiyah
memberontak kepada Ali?
Kini
penelitian kita sampai kepada persoalan: Benarkah Mu’awiyah
memimpin pemberontakan ke atas Ali? Jawabannya
tidak. Ini karena jika dikatakan seseorang itu memberontak kepada
pemimpinnya, niscaya pemberontak itulah yang bergerak ke arah
pemimpin. Akan tetapi dalam kasus
Mu’awiyah, beliau tidak bergerak ke arah Ali. Sekalipun Mu’awiyah
enggan membai’at Ali, beliau hanya berdiam diri di Syam tanpa
memulai tindakan apa-apa. Syaikh Muhib
Al-Din Al-Khatib rahimaullah (1389H) menjelaskan:
“…lalu
Ali berangkat meninggalkan Kufah dan menuju di permulaan jalan yang
menuju ke arah Syam dari Iraq. Ali mengisyaratkan supaya orang tetap
tinggal di Kufah dan mengirimkan yang selainnya ke Syam. Sampai
berada kepada Mu’awiyah bahwa Ali telah mempersiapkan pasukannya
dan Ali sendiri keluar untuk memerangi beliau. Maka para pembesar
Syam mengisyaratkan kepada Mu’awiyah agar dia sendiri turut keluar
(untuk berhadapan dengan pasukan Ali). Maka orang-orang Syam
berangkat menuju ke Sungai Furat melalui Shiffin dan Ali maju bersama
pasukannya menuju Shiffin juga.
…Seandainya
Ali tidak mempersiapkan pasukan yang bergerak dari Kufah niscaya
Mu’awiyah tidak akan bergerak (dari Syam).” [catatan notakaki
Al-‘Awashim min Al-Qawashim, hal. 166 & 168]
Dalam
persoalan ini terdapat sebuah hadits yang lazim dijadikan alasan
melabel Mu’awiyah sebagai pemberontak. Hadits tersebut diriwayatkan
oleh Al-Imam Muslim di dalam kitab Shahihnya – hadits no: 2916 di
mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada ‘Ammar
bin Yasir radhiallahu ‘anhu: “Engkau akan dibunuh oleh kelompok
pemberontak.” Di dalam Perang Shiffin, ‘Ammar berada di dalam
pasukan Ali dan beliau terbunuh dalam peperangan tersebut. Lalu
Mu’awiyah dilabel sebagai pemberontak karena pasukan beliaulah yang
memerangi Ali sehingga menyebabkan ‘Ammar terbunuh.
Sebenarnya
tidak tepat menggunakan hadits di atas untuk melabel Mu’awiyah
sebagi pemberontak. Sebabnya:
Sejak
awal para sahabat mengetahui bahwa ‘Ammar bin Yasir berada di dalam
pasukan Ali. Dengan itu, sesiapa yang memerangi pasukan Ali, niscaya
mereka adalah para pemberontak. Akan tetapi fakta sejarah mencatatkan
bahwa banyak sahabat yang mengecualikan diri dari Perang Shiffin.
Jika mereka memandang pasukan Mu’awiyah sebagai pemberontak,
niscaya mereka tidak akan mengecualikan diri, malah tanpa ragu
akan menyertai pasukan Ali. Sikap mereka mengecualikan diri
menunjukkan mereka tidak memandang pasukan Mu’awiyah sebagai pihak
yang memberontak. Perlu ditambah bahwa hadits yang meramalkan
pembunuhan ‘Ammar bin Yasir oleh kelompok pembangkang adalah hadits
mutawatir yang diriwayatkan oleh lebih daripada 20 orang sahabat.
[Rujuk Qathf Al-Azhar Al-Mutanatsirah fi Al-Akhbar Al-Mutawatirah
oleh Al-Imam As-Suyuthi (911H) (Al-Maktab Al-Islami, Beirut, 1985),
hadits no: 104]
Ali juga mengetahui bahwa ‘Ammar bin Yasir berada dalam pasukannya.
Akan tetapi Ali mengakhiri Perang Shiffin melalui perdamaian yang
disebut sebagai peristiwa Tahkim. Seandainya Ali memandang Mu’awiyah
sebagai pemberontak, niscaya beliau tidak akan melakukan usaha
perdamaian dengannya.
Saat
terbunuhnya Ali, jabatan khalifah diserahkan kepada anaknya, Hasan
bin Ali radhiallahu ‘anhu. Tidak berapa lama setelah itu, Hasan
menyerahkan jabatan khalifah kepada Mu’awiyah. Padahal Hasan juga
mengetahui bahwa ‘Ammar bin Yasir telah terbunuh dalam Perang
Shiffin. Jika Hasan memandang Mu’awiyah sebagai pemberontak,
niscaya beliau tidak akan menyerahkan jabatan khalifah kepada
Mu’awiyah. Namun Hasan tetap menyerahkannya, menunjukkan beliau
tidak memandang Mu’awiyah sebagai pemberontak.
Semua
ini membawa kepada persoalan seterusnya, siapakah yang sebenarnya
dimaksudkan sebagai “kelompok pemberontak”? Kelompok pemberontak
tersebut bukanlah pasukan Mu’awiyah maupun pasukan Ali, akan
tetapi adalah orang-orang yang pada asalnya menyebabkan terjadinya
peperangan antara Mu’awiyah dan Ali. Mereka adalah kelompok
pemberontak yang asalnya memberontak kepada ‘Utsman ibn Affan
sehingga akhirnya membunuh beliau. Diingatkan bahwa sekalipun pada
zahirnya peperangan kelihatan terjadi di antara sahabat, faktor yang
menggerakkannya ialah para pemberontak yang asalnya terlibat dalam
pembunuhan ‘Utsman.
Syaikh
Muhib Al-Din Al-Khatib rahimaullah menjelaskan hakikat ini:
“Sesungguhnya
orang yang membunuh orang Islam dengan tangan kaum Muslimin setelah
terjadinya pembunuhan ‘Utsman, maka dosanya berada di atas para
pembunuh ‘Utsman karena mereka adalah pembuka pintu fitnah dan
mereka yang menyalakan apinya dan mereka yang menipu sebagian hati
kaum muslimin dengan sebagian yang lain. Maka sebagaimana mereka
membunuh ‘Utsman maka mereka juga membunuh setiap orang yang mati
setelah ‘Utsman, di antaranya separti ‘Ammar dan orang yang lebih
utama daripada ‘Ammar yaitu Thalhah dan al-Zubair, sehinggalah
berakhirnya fitnah dengan terbunuhnya Ali.
…..Segala
sesuatu yang terjadi karena fitnah maka yang menanggungnya adalah
orang yang menyalakan apinya karena merekalah penyebab yang pertama.
Mereka itulah “kelompok pembangkang” yang membunuh, yang
menyebabkan setiap pembunuhan dalam Perang Jamal dan Perang Shiffin
dan perpecahan yang terjadi setelah kedua-dua perang tersebut.”
[catatan notakaki al-‘Awashim min al-Qawashim, hal. 173]
Kebenaran
tetap bersama pemimpin.
Sekalipun
dikatakan bahwa Mu’awiyah bukan pemberontak, tidaklah berarti
Mu’awiyah berada di pihak yang benar. Di dalam Islam, apabila ada
perbedaan pendapat antara pemimpin dan selain pemimpin, maka
kebenaran terletak bersama pemimpin. Hendaklah mereka yang
menyelisihi pemimpin tetap bersama pemimpin dan berbincang dengan
beliau terhadap apa yang diperselisihkan. Di dalam peristiwa yang
membawa kepada Perang Shiffin, pemimpin saat itu ialah Ali. Maka
sikap yang lebih tepat bagi Mu’awiyah ialah tidak meletakkan syarat
untuk membai’at ‘Ali, sebaliknya membai’at beliau dan kemudian
berbincang dengan beliau cara terbaik untuk mengambil tindakan ke
atas para pembunuh ‘Utsman.
Syaikh
al-Islam Ibn Taimiyyah rahimahullah
menegaskan:
“Dan
Mu’awiyah bukanlah dari golongan mereka
yang memilih untuk memulai perang, bahkan
beliau dari golongan yang paling menghendaki agar tidak terjadi
perang ….. yang benar adalah (dengan) tidak (sepatutnya) terjadinya
peperangan. Meninggalkan peperangan adalah lebih baik bagi kedua-dua
pihak. Tidaklah dalam peperangan tersebut (Perang Shiffin, ada
satu) pihak yang benar. Akan tetapi Ali lebih mendekati kebenaran
daripada Mu’awiyah. Peperangan adalah
peperangan karena fitnah, tidak ada yang wajib dan tidak ada yang
sunat dan meninggalkan perang adalah lebih baik bagi kedua-dua pihak.
Hanya saja Ali adalah lebih benar. Dan ini merupakan pendapat
(al-Imam) Ahmad dan kebanyakan ahli hadits dan kebanyakan para imam
fiqh dan ini juga merupakan pendapat para tokoh sahabat dan tabi’in
yang selalu mendapat kebaikan.” [Minhaj al-Sunnah, jld. 4, hal.
447-448]
Wallahu a'lam
Read More...