Verily! Those who fear their Lord unseen, theirs will be forgiveness and a great reward (Al Muluk :12)
Tampilkan postingan dengan label Manhaj. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Manhaj. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Januari 2012

DIBALIK PERAYAAN TAHUN BARU

Kita sering lihat dan mendengar, bahwa tahni`ah (ucapan selamat) kaum Nasrani adalah : “Marry Christmas and Happy New Year”, “Selamat Natal dan Tahun Baru”. Namun, tunggu dulu. Tidak itu saja… Ternyata kaum pagan Persia yang beragama Majūsî (penyembah api), menjadikan tanggal 1 Januari sebagai hari raya mereka yang dikenal dengan hari Nairuz atau Nurus.

Pesta tahun baru sendiri, merupakan syiarnya kaum Yahūdî .

Rosh Hashanah (bahasa Ibrani: ראש השנה) secara etimologis berarti "permulaan tahun". Hari raya ini adalah satu dari 4 perayaan tahun baru yang dilakukan oleh orang Yahudi.[1] Hari raya ini juga seringkali disebut sebagai Yom Teruah (bahasa Ibrani: יום תרועה Hari Meniup Serunai Shofar), Yom Hazikarom (Hari Mengingat), Yom Hadim (Hari Penghakiman), atau Ianim Nora'im (Hari Pertobatan Sepuluh Hari)[3]. Dirayakan setiap tanggal 1 dan 2 bulan Tishrei, bulan ke-7 dalam Kalender Yahudi (Bulan ke-1 adalah Nisan), mendahului hari raya Yom Kippur yang diperingati tanggal 10 Tishrei. Biasanya dalam kalender Masehi, jatuh sekitar bulan September-Oktober. Pada perayaan ini, ada kebiasaan untuk memakan roti yang dicelupkan pada madu (biasanya dicelupkan pada garam). Hal ini melambangkan harapan untuk tahun baru yang baik dan "manis". Ciri khas lainnya dari perayaan ini adalah ditiupnya serunai yang disebut shofar sepanjang hari di sinagoge sebagai tanda perayaan. Sama seperti orang yang meniup terompet pada malam tahun baru.

Ada lagi yang mengisi kegiatan ini dengan bid’ah-bid’ah yang tidak pernah dituntunkan oleh Rasūlullâh dan tidak pula dikerjakan oleh generasi terbaik, para sahabat dan as-Salaf ash-Shâlih. Mereka melakukan sholât malam (Qiyâmul Layl) berjama’ah khusus pada malam tahun baru saja dan disertai niat pengkhususannya. Ada lagi yang melakukan Muhâsabah atau renungan suci akhir tahun, dengan membaca ayat-ayat al-Qur`ân sambil menangis-nangis. Ada lagi yang berdzikir berjamâ’ah bahkan sampai istighôtsah kubrô. Dan segala bentuk bid’ah-bid’ah lainnya.

Dalîl-Dalîl Pengharamannya


Syaikhul Islâm rahimahullâh berkata :

”Menyepakati kaum kuffâr di dalam perayaan-perayaan mereka tidak boleh hukumnya dengan dua argumentasi dalil, yaitu dalil umum dan dalil khusus. Dalil umumnya adalah, bahwa menyepakati ahli kitâb di dalam perkara yang tidak berasal dari agama kita dan tidak pula berasal dari kebiasaan salaf kita, maka di dalamnya terdapat kerusakan menyepakati mereka dan meninggalkannya terdapat maslahat menyelisihi mereka. Menyelisihi mereka ada maslahatnya bagi kita, sebagaimana sabda Nabî Shallâllâhu ’alaihi wa sallam : ”Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka.” Hadîts ini berkonsekuensi akan haramnya menyerupai kaum kuffâr secara mutlak. Demikian pula sabda Nabî, ”Selisihilah kaum musyrikîn”, sedangkan hari raya mereka termasuk jenis amal perbuatan berupa agama atau syiar agama mereka yang bâthil. Adapun dalîl-dalîl khusus tentang (haramnya menyepakati) perayaan kaum kuffâr ada di dalam al-Kitâb, as-Sunnah, al-Ijmâ’ dan al-I’tibar yang menunjukkan atas haramnya menyepakati kaum kuffâr di dalam berbagai perayaan mereka.” [Iqtidhâ` ash-Shirâthal Mustaqîm].

Allôh Azza wa Jalla berfirman

وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا

”Dan orang-orang yang tidak menyaksikan kepalsuan, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS al-Furqân : 72)

Adapun âtsar sahabat dan ulama salaf dalam masalah ini, sangatlah banyak. Diantaranya adalah ucapan ’Umar radhiyallâhu ’anhu, beliau berkata :

اجتنبوا أعداء الله في عيدهم

”Jauhilah hari-hari perayaan musuh-musuh Allôh.” [Sunan al-Baihaqî IX/234].

’Abdullâh bin ’Amr radhiyallâhu ’anhumâ berkata :

من بنى ببلاد الأعاجم وصنع نيروزهم ومهرجانهم ، وتشبه بهم حتى يموت وهو كذلك حُشِر معهم يوم القيامة

”Barangsiapa yang membangun negeri orang-orang kâfir, meramaikan peringatan hari raya nairuz (tahun baru) dan karnaval mereka serta menyerupai mereka sampai meninggal dunia dalam keadaan demikian. Ia akan dibangkitkan bersama mereka di hari kiamat.” [Sunan al-Baihaqî IX/234].
Ikut merayakan bahkan walaupun hanya mengucapkan “selamat” mempunyai konsekuensi yang besar dalam Islam. Memberi selamat termasuk salah satu bentuk keridhaan, kerelaan dan kesenangan atas sesuatu. Nah memberi selamat atas hari raya kaum kafir berarti ridha atas kekafiran mereka. Seorang muslim yang ridha atas kekafiran dikhawatirkan juga akan menjadi kufur seperti orang-orang kafir itu. Sebab pembatal keimaman ada 9 yaitu:
1. Sombong dan menolak beribadah kepada Allah, walaupun dia mengakui kebenaran Islam
2. Syirik dalam beribadah kepada Allah
3. Meminta pertolongan kepada selain Allah, dengan pertolonga yang tidak bisa dilakukan oleh manusia biasa
4. Mendustakan Rasulullah atau membenci yang dibawa oleh beliau
5. TIDAK MENGKAFIRKAN ORANG KAFIR ATAU RAGU TERHADAP KEKAFIRAN MEREKA ATAU MEMBENARAKN MADZHAB MEREKA ATAU RIDHA DENGAN KEKAFIRAN MEREKA.
6. Memperolok-olok Allah, Al Qur’an, para nabi, dan Islam, baik secara serius maupun bercanda
7. Membantu orang kafir dalam memusuhi Islam
8. Meyakini bahwa ada sebagian orang yang boleh keluar dari ajaran Rasulullah (murtad)
9. Meyakini ada yang lebih sempurna dari ajaran Agama Rasulullah

Jadi hal-hal yang seharusnya dilakukan oleh seorang Muslim terhadap perayaan orang kafir (termasuk perayaan Malam Tahun Baru adalah:
1. Tidak mengingatnya
2. Tidak mengucapkan selamat atasnya kepada siapapun
3. Tidak turut serta membantu acara tersebut sekecil apapun
4. Tidak menghadiri acara tersebut apapun bentuknya
5. Tidak memakan hidangannya
6. Menolaknya dalam hati dan secara zhahir
7. Berlepas diri darinya dan orang-orang yang merayakannya
Read More...

Rabu, 16 November 2011

APAKAH AL ASY’ARIYYAH TERMASUK AHLU SUNNAH ?

Oleh: Abu Ihsan Al Atsary Al Maidany

Ini adalah sebuah polemik yang sempat mencuat di kalangan kaum muslimin, khususnya para penuntut ilmu. Ada sebagian orang mengira Al Asy’ariyyah termasuk Ahlu Sunnah Wal Jama’ah.

Seperti yang sudah dimaklumi, sebenarnya madzhab Al Asy’ariyyah yang berkembang sekarang ini, hakikatnya adalah madzhab Al Kullabiyyah. Abul Hasan Al Asy’ari sendiri telah bertaubat dari pemikiran lamanya, yaitu pemikiran Mu’tazilah. Tujuh sifat yang ditetapkan dalam madzhab Al Asy’ariyyah inipun bukan berdasarkan nash dan dalil syar’i, tetapi berdasarkan kecocokannya dengan akal dan logika. Jadi, sangat bertentangan dengan prinsip Ahlu Sunnah Wal Jama’ah.


SEJARAH SINGKAT ABUL HASAN AL ASY’ARI
Nama lengkapnya adalah Ali bin Ismail bin Ishaq bin Salim bin Ismail bin Abdullah bin Musa bin Abi Burdah bin Abu Musa Al Asy’ari. Lebih akrab disebut Abul Hasan Al Asy’ari. Lahir di Bashrah pada tahun 260 H atau 270 H. Masa kecil dan mudanya dihabiskan di kota Bashrah. Kota yang kala itu sebagai pusat kaum Mu’tazilah. Dan tidak dapat dielakkan, pada masa pertumbuhannya, beliau terpengaruh dengan lingkungannya Beliau mendalami ilmu kalam dan pemikiran Mu’tazilah dari ayah tirinya yang bernama Abu Ali Al Juba’i. Namun kemudian, beliau bertaubat dari pemikiran Mu’tazilah ini. Allah menghendaki keselamatan bagi beliau, dan memperoleh petunjuk kepada madzhab Salaf dalam penetapan sifat-sifat Allah, dengan tanpa ta’wil, tanpa ta’thil, tanpa takyif dan tanpa tamtsil [1]

Kisah taubatnya dari pemikiran Mu’tazilah ini sangat populer. Beliau melepas pakaiannya seraya berkata: “Aku melepaskan keyakinan Mu’tazilah dari pemikiranku, seperti halnya aku melepaskan jubah ini dari tubuhku,” kemudian beliau melepas jubah yang dikenakannya. Secara simbolis, itu merupakan pernyataan bahwa beliau berlepas diri dari pemikiran Mu’tazilah dan dari kaum Mu’tazilah.

Ahli sejarah negeri Syam, Al Hafizh Abul Qasim Ali bin Hasan bin Hibatillah bin Asakir Ad Dimasyq (wafat tahun 571) dalam kitab At Tabyin menceritakan peristiwa tersebut:

Abu Ismail bin Abu Muhammad bin Ishaq Al Azdi Al Qairuwani, yang dikenal dengan sebutan Ibnu ‘Uzrah bercerita, Abul Hasan Al Asy’ari adalah seorang yang bermadzhab Mu’tazilah. Dan memegang madzhab ini selama 40 tahun. Dalam pandangan mereka, beliau adalah seorang imam. Kemudian beliau menghilang selama lima belas hari. Secara tiba-tiba, beliau muncul di masjid Jami’ kota Bashrah. Dan setelah shalat Jum’at, beliau naik ke atas mimbar seraya berkata,”Hadirin sekalian. Aku menghilang dari kalian selama beberapa hari, karena ada dalil-dalil yang bertentangan dan sama kuatnya, namun aku tidak mampu menetapkan mana yang hak dan mana yang batil. Dan aku tidak mampu membedakan mana yang batil dan mana yang hak. Kemudian aku memohon petunjuk kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka Dia memberiku petunjuk, dan aku tuangkan ke dalam bukuku ini. Dan aku melepaskan semua aqidah (keyakinan) yang dulu aku pegang, sebagaimana aku membuka bajuku ini.” Kemudian beliau membuka bajunya dan membuangnya, lalu memberikan bukunya tersebut kepada para hadirin.

Sebagai bukti kesungguhan Abul Hasan Al Asy’ari melepaskan diri dari pemikiran Mu’tazilah, yaitu beliau mulai bangkit membantah pemikiran Mu’tazilah dan mendebat mereka. Bahkan beliau menulis sampai tiga ratus buku untuk membantah Mu’tazilah. Namun dalam membantahnya, beliau menggunakan rasio dan prinsip-prinsip logika. Beliau mengikuti pemikiran-pemikiran Kullabiyyah.[2]

ABUL HASAN AL ASY’ARI SECARA TOTAL MENJADI PENGIKUT MANHAJ SALAF
Kemudian Allah menyempurnakan nikmatNya untuk beliau. Setelah pindah ke Baghdad dan bergabung bersama para tokoh murid-murid Imam Ahmad, akhirnya beliau secara total menjadi seorang Salafi (pengikut manhaj Salaf). Pada fase yang ketiga dalam kehidupannya ini, beliau menulis beberapa risalah berisi pernyataan taubatnya dari seluruh pemikiran Mu’tazilah dan syubhat-syubhat Kullabiyyah.

Diantara beberapa buku yang ditulisnya, yaitu: Al Luma’, Kasyful Asrar Wa Hatkul Asrar, Tafsir Al Mukhtazin, Al Fushul Fi Raddi ‘Alal Mulhidiin Wa Kharijin ‘Alal Millah Ka Al Falasifah Wa Thabai’in Wad Dahriyin Wa Ahli Tasybih, Al Maqalaat Al Islamiyyin dan Al Ibanah. Semoga Allah merahmati beliau.

PERNYATAAN ABUL HASAN AL ASY’ARI DALAM KITABNYA: AL IBANAH FI USHULID DIYANAH [3]
Beliau berkata dalam kitab Al Ibanah: “Pendapat yang kami nyatakan, dan agama yang kami anut adalah berpegang teguh dengan Kitabullah k dan Sunnah NabiNya Shallallahu ‘alaihi wa sallam , atsar-atsar (riwayat-riwayat) yang diriwayatkan dari para sahabat, tabi’in dan para imam ahli hadits. Kami berpegang teguh dengan prinsip tersebut. Kami berpendapat dengan pendapat yang telah dinyatakan oleh Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hambal, semoga Allah mengelokkan wajah beliau, mengangkat derajat beliau dan melimpahkan pahala bagi beliau. Dan kami menyelisihi perkataan yang menyelisihi perkataan beliau. Karena beliau adalah imam yang fadhil (utama), pemimpin yang kamil (sempurna). Melalui dirinya, Allah menerangkan kebenaran dan mengangkat kesesatan, menegaskan manhaj dan memberantas bid’ah yang dilakukan kaum mubtadi’in, dan (memberantras) penyimpangan yang dilakukan orang-orang sesat, serta (memberantas) keraguan yang ditebarkan orang yang ragu-ragu.” [4]

Demikian pernyataan Abul Hasan, bahwa ia kembali ke pangkuan manhaj Salaf.

ULAMA-ULAMA SYAFI’IYYAH MENOLAK DINISBATKAN KEPADA ASY’ARIYYAH
Kebanyakan orang mengira bahwa madzhab Al Asy’ariyyah itu identik dengan madzhab Ahlu Sunnah Wal Jama’ah. Ini sebuah kekeliruan fatal.

Abul Hasan sendiri telah kembali ke pangkuan manhaj Salaf, dan mengikuti aqidah Imam Ahmad bin Hambal. Yaitu menetapkan seluruh sifat-sifat yang telah Allah tetapkan untuk diriNya, dan yang telah ditetapkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam hadits-hadits shahih, dengan tanpa takwil, tanpa ta’thil, tanpa takyif dan tanpa tamtsil. Jelas, Abul Hasan pada akhir hidupnya adalah seorang salafi, pengikut manhaj salaf dan madzhab imam ahli hadits. Sampai-sampai ulama-ulama Asy Syafi’iyyah menolak dinisbatkan kepada madzhab Asy’ariyyah.

Berikut ini, mari kita simak penuturan Syaikh Abu Usamah Salim bin ‘Id Al Hilali dalam kitabnya yang sangat bagus, dalam edisi Indonesia berjudul Jama’ah-jama’ah Islam Ditimbang Menurut Al Qur’an dan As Sunnah (halaman 329-330). Dalam bukunya tersebut, beliau membantah Hizbut Tahrir yang mencampur-adukkan istilah Ahlu Sunnah Wal Jama’ah dengan istilah Al Asy’ariyyah, sekaligus menyatakan bila Al Asy’ariyyah bukan termasuk Ahlu Sunnah Wal Jama’ah, atau bukan termasuk pengikut manhaj Salaf. Beliau berkata:

Jika dikatakan: Yang dimaksud Ahlus Sunnah di sini adalah madzhab Asy’ariyah.
Kami jawab: Tidak boleh menamakan Asy’ariyah dengan sebutan Ahlus Sunnah. Berdasarkan persaksian ulama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah (pengikut Salafush Shalih), mereka bukan termasuk Ahlus Sunnah

1. Imam Ahmad, Ali bin Al Madini dan lainnya menyatakan, barangsiapa menyelami ilmu kalam, (maka ia) tidak termasuk Ahlus Sunnah, meskipun perkataannya bersesuaian dengan As Sunnah, hingga ia meninggalkan jidal (perdebatan) dan menerima nash-nash syar’iyyah [5]. Tidak syak lagi, sumber pengambilan dalil yang sangat utama dalam madzhab Asy’ariyah adalah akal. Tokoh-tokoh Asya’riyah telah menegaskan hal itu. Mereka mendahulukan dalil aqli (logika) daripada dalil naqli (wahyu), apabila terjadi pertentangan antara keduanya. Ketika Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah membantah mereka melalui bukunya yang berjudul Dar’u Ta’arudh Aql Wan Naql, beliau membukanya dengan menyebutkan kaidah umum yang mereka pakai bilamana terjadi pertentangan antara dalil-dalil.[6]

2. Ibnu Abdil Bar, dalam mensyarah (menjelaskan) perkataan Imam Malik, dia menukil perkataan ahli fiqh madzhab Maliki bernama Ibnu Khuwaiz Mandad: “Tidak diterima persaksian Ahli Ahwa’ (Ahli Bid’ah).” Ia menjelaskan: “Yang dimaksud Ahli Ahwa’ oleh Imam Malik dan seluruh rekan-rekan kami, adalah Ahli Kalam. Siapa saja yang termasuk Ahli Kalam, maka ia tergolong ahli ahwa’ wal bida’; baik ia seorang pengikut madzhab Asy’ariyyah atau yang lainnya. Persaksiannya dalam Islam tidak diterima selama-lamanya, wajib diboikot dan diberi peringatan atas bid’ahnya. Jika ia masih mempertahankannya, maka harus diminta bertaubat.” [7]

3. Abul Abbas Suraij yang dijuluki Asy Syafi’i kedua berkata,”Kami tidak mengikuti takwil Mu’tazilah, Asy’ariyah, Jahmiyah, Mulhid, Mujassimah, Musyabbihah, Karramiyah dan Mukayyifah [8]. Namun kami menerima nash-nash sifat tanpa takwil, dan kami mengimaninya tanpa tamtsil.” [9]

4. Abul Hasan Al Karji, salah seorang tokoh ulama Asy Syafi’iyyah berkata: “Para imam dan alim ulama Syafi’iyyah, dari dulu sampai sekarang menolak dinisbatkan kepada Asy’ariyah. Mereka justeru berlepas diri dari madzhab yang dibangun oleh Abul Hasan Al Asy’ari. Menurut yang aku dengar dari beberapa syaikh dan imam, bahkan mereka melarang teman-teman mereka dan orang-orang dekat mereka dari menghadiri majelis-majelisnya. Sudah dimaklumi bersama kerasnya sikap syaikh [10] terhadap Ahli Kalam, sampai-sampai memisahkan fiqh Asy Syafi’i dari prinsip-prinsip Al Asy’ari, dan diberi komentar oleh Abu Bakar Ar Radziqani. Dan buku itu ada padaku. Sikap inilah yang diikuti oleh Abu Ishaq Asy Syirazi dalam dua kitabnya, yakni Al Luma’ dan At Tabshirah. Sampai-sampai kalaulah sekiranya perkataan Al Asy’ari bersesuaian dengan perkataan rekan-rekan kami (ulama madzhab Asy Syafi’i), beliau membedakannya. Beliau berkata: “Ini adalah pendapat sebagian rekan kami. Dan pendapat ini juga dipilih oleh Al Asy’ariyah.” Beliau tidak memasukkan mereka ke dalam golongan rekan-rekan Asy Syafi’i. Mereka menolak disamakan dengan Al Asy’ariyah. Dan dalam masalah fiqh, mereka menolak dinisbatkan kepada madzhab Al Asy’ariyah; terlebih lagi dalam masalah ushuluddin.” [11]

Pendapat yang benar adalah, Al Asy’ariyah termasuk Ahli Kiblat (kaum muslimin), tetapi mereka bukan termasuk Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Ketika para tokoh dan pembesar Al Asy’ariyyah jatuh dalam kebingungan, mereka keluar dari pemikiran Al Asy’ariyah. Diantaranya adalah Al Juwaini, Ar Razi, Al Ghazzali dan lainnya. Jika mereka benar-benar berada di atas As Sunnah dan mengikuti Salaf, lalu dari manhaj apakah mereka keluar? Dan kenapa mereka keluar? Hendaklah orang yang bijak memahaminya, karena ini adalah kesimpulan akhir.

Dalam daurah Syar’iyyah Fi Masail Aqa’idiyyah Wal Manhajiyyah di Surabaya, dua tahun yang lalu, Syaikh Salim ditanya: Apakah Al Asy’ariyyah termasuk Ahlu Sunnah Wal Jama’ah? Beliau menjawab dengan tegas: “Al Asy’ariyyah tidak termasuk Ahlu Sunnah Wal Jama’ah.”

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun VIII/1425H/2004M Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 08121533647, 08157579296]
_______
Footnote
[1]. Ta’thil (menolak atau meniadakan sifat Allah, takyif (membayangkan atau menanyakan hakikat dan bentuk sifat Allah), tamtsil (menyerupakan sifat Allah dengan sifat makhluk), ta’wil (maksudnya tahrif yaitu menyimpangkan makna dari zhahirnya tanpa dalil)
[2]. Al Kullabiyah, adalah penisbatan kepada Abu Muhammad Abdullah bin Sa’id bin Muhammad bin Kullab Al Bashri, wafat pada tahun 240 H.
[3]. Buku ini telah saya terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, diterbitkan oleh Pustaka At Tibyan. Dalam buku aslinya disertakan taqdim (kata pengantar dari para ulama terkini, seperti Syaikh Hammad bin Muhammad Al Anshari, Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz dan Syaikh Ismail Al Anshari). Buku ini sangat penting dibaca oleh kaum muslimin, khususnya di Indonesia dan Malaysia yang mayoritas penduduknya menisbatkan diri kepada Al Asy’ariyyah.
[4]. Al Ibanah, halaman 17.
[5]. Silakan lihat Syarah Ushul I’tiqad Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, karangan Al Laalikaai (I/157-165).
[6]. Bagi yang ingin penjelasan lebih rinci, silakan lihat kitab Asasut Taqdis, karangan Ar Razi, hlm. 168-173 dan Asy Syamil, karangan Al Juwaiini, hlm. 561 dan Al Mawaqif, karangan Al Iji, hlm. 39-40.
[7]. Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlihi (II/96).
[8]. Ini semua adalah nama-nama aliran
[9]. Ijtima’ Juyusy Islamiyah, hlm. 62.
[10]. Yakni Syaikh Abu Hamid Al Isfaraini.
[11]. At Tis’iniyyah, hlm. 238-239.
Read More...

Sabtu, 09 Juli 2011

ARSY ALLAH AZZA WA JALLA

Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengimani bahwa ‘Arsy Allah dan Kursi-Nya adalah benar adanya. Allah سبحانه و تعالى berfirman: "Maka, Mahatinggi Allah, Raja Yang sebenarnya; tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar selain Dia, Rabb (Yang mempunyai) ‘Arsy yang mulia.” [Al-Mu’minuun: 116] Juga firman-Nya: “Yang mempunyai ‘Arsy, lagi Mahamulia.” [ Al-Buruuj: 15] Apabila seseorang Muslim mengalami kesulitan,

Rasulullah صلی الله عليه وسلم mengajarkan untuk membaca:


لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ الْعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ رَبُّ السَّماَوَاتِ، وَرَبُّ اْلأَرْضِ، وَرَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيْمِ
. “Tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah, Yang Mahaagung lagi Maha Penyantun. Tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah, Rabb (Pemilik) ‘Arsy yang agung. Tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah, Rabb langit dan juga Rabb bumi, serta Rabb Pemilik ‘Arsy yang mulia.” [1]
Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda: ...


فَإِذَا سَأَلْتُمُ اللهَ فَاسْأَلُوْهُ الْفِرْدَوْسَ، فَإِنَّهُ أَوْسَطُ الْجَنَّةِ، وَأَعْلَى الْجَنَّةِ وَفَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ
... “... Apabila engkau memohon kepada Allah, maka mohon-lah kepada-Nya Surga Firdaus. Sesungguhnya ia (adalah) Surga yang paling utama dan paling tinggi. Di atasnya terdapat ‘Arsy Allah yang Maha Pengasih...” [2] 

‘Arsy yaitu singgasana yang memiliki beberapa tiang yang dipikul oleh para Malaikat. Ia menyerupai kubah bagi alam semesta. ‘Arsy juga merupakan atap seluruh makhluk. [3] ‘Arsy Allah dipikul oleh para Malaikat, dan jarak antara pundak Malaikat tersebut dengan telinganya sejauh perjalanan burung terbang selama 700 tahun. Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda: 

أُذِنَ لِي أَنْ أُحَدِّثَ عَنْ مَلَكٍ مِنْ مَلاَئِكَةِ اللهِ مِنْ حَمَلَةِ الْعَرْشِ إِنَّ مَا بَيْنَ شَحْمَةِ أُذُنِهِ إِلَى عَاتِقِهِ مَسِيْرَةُ سَبْعِ مِائَةِ عَامٍ
. “Telah diizinkan bagiku untuk bercerita tentang sosok Malaikat dari Malaikat-Malaikat Allah Azza wa Jalla yang bertugas sebagai pemikul ‘Arsy, bahwa jarak antara daun telinganya sampai ke bahunya adalah sejauh perjalanan 700 tahun.” [4]

Rasulullah صلی الله عليه وسلم juga bersabda:

مَا السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ فِي الْكُرْسِيِّ إِلاَّ كَحَلْقَةٍ مُلْقَاةٍ بِأَرْضِ فَلاَةٍ، وَفَضْلُ الْعَرْشِ عَلَى الْكُرْسِيِّ كَفَضْلِ تِلْكَ الْفَلاَةِ عَلَى تِلْكَ الْحَلْقَةِ
. “Perumpamaan langit yang tujuh dibandingkan dengan Kursi seperti cincin yang dilemparkan di padang sahara yang luas, dan keunggulan ‘Arsy atas Kursi seperti keunggulan padang sahara yang luas itu atas cincin tersebut.” [5]

Adapun tentang Kursi, Allah سبحانه و تعالى berfirman: “Dan Kursi Allah meliputi langit dan bumi.”  [Al-Baqarah : 255] Dari Sa’id bin Jubair bahwasanya ketika Sahabat ‘Abdullah bin ‘Abbas  رضي الله عنه menafsirkan firman Allah:
وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ
“Kursi Allah meliputi langit dan bumi,” beliau berkata:

اَلْكُرْسِيُّ مَوْضِعُ الْقَدَمَيْنِ وَالْعَرْشُ لاَ يَقْدُرُ قَدْرَهُ إِلاَّ اللهُ تَعَالَى
. “Kursi adalah tempat meletakkan kaki Allah, sedangkan ‘Arsy tidak ada yang dapat mengetahui ukuran besarnya melainkan hanya Allah Ta’ala.” [6]

Imam ath-Thahawi (wafat th. 321 H) rahimahullah berkata: “Allah tidak membutuhkan ‘Arsy dan apa yang di bawahnya. Allah menguasai segala sesuatu dan apa yang di atasnya. Dan Dia tidak memberi kemampuan kepada makhluk-Nya untuk mengetahui segala sesuatu.” Kemudian beliau rahimahullah menjelaskan: “Bahwa Allah mencipta-kan ‘Arsy dan bersemayam di atasnya, bukanlah karena Allah membutuhkan ‘Arsy tetapi Allah mempunyai hikmah tersendiri tentang hal itu.”  [7]

Foote Note
[1]. HR. Al-Bukhari (no. 6345), Muslim (no. 2730), at-Tirmidzi (no. 3435) dan Ibnu Majah (no. 3883), dari Sahabat Ibnu ‘Abbas.

[2] HR. Al-Bukhari (no. 2790, 7423), Ahmad (II/335, 339) dan Ibnu Abi ‘Ashim (no. 581), dari Sahabat Abu Hurairah رضي الله عنه .
[3] Syarhul ‘Aqiidah ath-Thahaawiyah (hal. 366-367), takhrij dan ta’liq Syu’aib al-Arnauth dan ‘Abdullah bin ‘Abdil Muhsin at-Turki.
[4]. Hadits shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 4727), dari Sahabat Jabir bin ‘Abdillah رضي الله عنه, sanadnya shahih. Lihat Silsilatul Ahaadiits ash-Shahiihah (no. 151), Syarhul ‘Aqiidah ath-Thahaawiyah (hal. 368) takhrij dan ta’liq Syu’aib al-Arnauth dan ‘Abdullah bin ‘Abdil Muhsin at-Turki. 
[5]. HR. Muhammad bin Abi Syaibah dalam Kitaabul ‘Arsy, dari Sahabat Abu Dzarr al-Ghifari رضي الله عنه . Dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilatul Ahaadiits ash-Shahiihah (I/223 no. 109). 
[6]. Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam Mu’jamul Kabiir (no. 12404), al-Hakim (II/282) dan dishahihkannya serta disetujui oleh adz-Dzahabi. Lihat Syarhul ‘Aqiidah ath-Thahaawiyah  (hal. 368-369), takhrij dan ta’liq Syu’aib al-Arnauth dan ‘Abdullah bin ‘Abdil Muhsin at-Turki. 
[7]. Ibid, hal. 372.   Read More...

Kamis, 07 Juli 2011

ALIRAN SESAT DALAM ISLAM

Ibnu Qudamah al-Maqdisi rahimahullah mengatakan, “Setiap golongan yang menamakan dirinya dengan selain identitas Islam dan Sunnah adalah mubtadi’ (ahli bid’ah) seperti contohnya : Rafidhah (Syi’ah), Jahmiyah, Khawarij, Qadariyah, Murji’ah, Mu’tazilah, Karramiyah, Kullabiyah, dan juga kelompok-kelompok lain yang serupa dengan mereka. Inilah firqah-firqah sesat dan kelompok-kelompok bid’ah, semoga Allah melindungi kita darinya.” (Lum’atul I’tiqad, dinukil dari Al Is’ad fi Syarhi Lum’atil I’tiqad hal 90. Lihat pula Syarh Lum’atul I’tiqad Syaikh al-‘Utsaimin, hal. 161)

Setelah membawakan perkataan Ibnu Qudamah ini Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menyebutkan mengenai sebagian ciri-ciri Ahlul bid’ah. Beliau mengatakan, “Kaum Ahlul bid’ah itu memiliki beberapa ciri, di antaranya:


* Mereka memiliki karakter selain karakter Islam dan Sunnah sebagai akibat dari bid’ah-bid’ah yang mereka ciptakan, baik yang menyangkut urusan perkataan, perbuatan maupun keyakinan.
 
* Mereka sangat fanatik kepada pendapat-pendapat golongan mereka. Sehingga mereka pun tidak mau kembali kepada kebenaran meskipun kebenaran itu sudah tampak jelas bagi mereka.
 
* Mereka membenci para Imam umat Islam dan para pemimpin agama (ulama).”(Syarh Lum’atul I’tiqad, hal. 161)

Kemudian Syaikh al-‘Utsaimin menjelaskan satu persatu gambaran firqah sesat tersebut secara singkat. Berikut ini intisari penjelasan beliau dengan beberapa tambahan dari sumber lain. Mereka itu adalah :

Rafidhah (Syi’ah) 
Mereka adalah orang-orang yang melampaui batas dalam mengagungkan ahlul bait (keluarga Nabi). Mereka juga mengkafirkan orang-orang selain golongannya, baik itu dari kalangan para Shahabat maupun yang lainnya. Ada juga di antara mereka yang menuduh para Shahabat telah menjadi fasik sesudah wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka ini pun terdiri dari banyak sekte. Di antara mereka ada yang sangat ekstrim hingga berani mempertuhankan ‘Ali bin Abi Thalib, dan ada pula di antara mereka yang lebih rendah kesesatannya dibandingkan mereka ini. Tokoh mereka di jaman ini adalah Khomeini beserta begundal-begundalnya. (Silakan baca Majalah Al Furqon Edisi 6 Tahun V/Muharram 1427 hal. 49-53, pent)

Jahmiyah. 
Disebut demikian karena mereka adalah penganut paham Jahm bin Shafwan yang madzhabnya sesat. Madzhab mereka dalam masalah tauhid adalah menolak sifat-sifat Allah. Sedangkan madzhab mereka dalam masalah takdir adalah menganut paham Jabariyah. Paham Jabriyah menganggap bahwa manusia adalah makhluk yang terpaksa dan tidak memiliki pilihan dalam mengerjakan kebaikan dan keburukan. Adapun dalam masalah keimanan madzhab mereka adalah menganut paham Murji’ah yang menyatakan bahwa iman itu cukup dengan pengakuan hati tanpa harus diikuti dengan ucapan dan amalan. Sehingga konsekuensi dari pendapat mereka ialah pelaku dosa besar adalah seorang mukmin yang sempurna imannya. Wallahul musta’an.

 
Khawarij
Mereka ini adalah orang-orang yang memberontak kepada khalifah ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu karena alasan pemutusan hukum. Di antara ciri pemahaman mereka ialah membolehkan pemberontakan kepada penguasa muslim dan mengkafirkan pelaku dosa besar. Mereka ini juga terbagi menjadi bersekte-sekte lagi. (Tentang Pemberontakan, silakan baca Majalah Al Furqon Edisi 6 Tahun V/Muharram 1427 hal. 31-36, pent)

Qadariyah
Mereka ini adalah orang-orang yang berpendapat menolak keberadaan takdir. Sehingga mereka meyakini bahwa hamba memiliki kehendak bebas dan kemampuan berbuat yang terlepas sama sekali dari kehendak dan kekuasaan Allah. Pelopor yang menampakkan pendapat ini adalah Ma’bad Al Juhani di akhir-akhir periode kehidupan para Shahabat. Di antara mereka ada yang ekstrim dan ada yang tidak. Namun yang tidak ekstrim ini menyatakan bahwa terjadinya perbuatan hamba bukan karena kehendak, kekuasaan dan ciptaan Allah, jadi inipun sama sesatnya.

Murji’ah
Menurut mereka amal bukanlah bagian dari iman. Sehingga cukuplah iman itu dengan modal pengakuan hati saja. Konsekuensi pendapat mereka adalah pelaku dosa besar termasuk orang yang imannya sempurna. Meskipun dia melakukan kemaksiatan apapun dan meninggalkan ketaatan apapun. Madzhab mereka ini merupakan kebalikan dari madzhab Khawarij.

Mu’tazilah 
Mereka adalah para pengikut Washil bin ‘Atha’ yang beri’tizal (menyempal) dari majelis pengajian Imam Hasan al-Bashri. Dia menyatakan bahwa orang yang melakukan dosa besar itu di dunia dihukumi sebagai orang yang berada di antara dua posisi (manzilah baina manzilatain), tidak kafir tapi juga tidak beriman. Akan tetapi menurutnya di akhirat mereka akhirnya juga akan kekal di dalam Neraka. Tokoh lain yang mengikuti jejaknya adalah Amr bin ‘Ubaid. Madzhab mereka dalam masalah tauhid Asma’ wa Shifat adalah menolak (ta’thil) sebagaimana kelakuan kaum Jahmiyah. Dalam masalah takdir mereka ini menganut paham Qadariyah. Sedang dalam masalah pelaku dosa besar mereka menganggapnya tidak kafir tapi juga tidak beriman. Dengan dua prinsip terakhir ini pada hakikatnya mereka bertentangan dengan Jahmiyah. Karena Jahmiyah menganut paham Jabariyah dan menganggap dosa tidaklah membahayakan keimanan.

Karramiyah
Mereka adalah pengikut Muhammad bin Karram yang cenderung kepada madzhab Tasybih (penyerupaan sifat Allah dengan makhluk) dan mengikuti pendapat Murji’ah, mereka ini juga terdiri dari banyak sekte.

Kullabiyah 
Mereka ini adalah pengikut Abdullah bin Sa’id bin Kullab al-Bashri. Mereka inilah yang mengeluarkan statemen tentang Tujuh Sifat Allah yang mereka tetapkan dengan akal. Kemudian kaum Asya’irah (yang mengaku mengikuti Imam Abul Hasan al-Asy’ari) pada masa ini pun mengikuti jejak langkah mereka yang sesat itu. Perlu kita ketahui bahwa Imam Abul Hasan al-Asy’ari pada awalnya menganut paham Mu’tazilah sampai usia sekitar 40 tahun. Kemudian sesudah itu beliau bertaubat darinya dan membongkar kebatilan madzhab Mu’tazilah. Di tengah perjalanannya kembali kepada manhaj Ahlus Sunnah beliau sempat memiliki keyakinan semacam ini yang tidak mau mengakui sifat-sifat Allah kecuali tujuh saja yaitu : hidup, mengetahui, berkuasa, berbicara, berkehendak, mendengar dan melihat. Kemudian akhirnya beliau bertaubat secara total dan berpegang teguh dengan madzhab Ahlus Sunnah, semoga Allah merahmati beliau. (lihat Syarh Lum’atul I’tiqad, hal. 161-163)

Syaikh Abdur Razzaq al-Jaza’iri hafizhahullah mengatakan, “Dan firqah-firqah sesat tidak terbatas pada beberapa firqah yang sudah disebutkan ini saja. Karena ini adalah sebagiannya saja. 
Di antara firqah sesat lainnya adalah : Kaum Shufiyah dengan berbagai macam tarekatnya, Kaum Syi’ah dengan sekte-sektenya, Kaum Mulahidah (atheis) dengan berbagai macam kelompoknya. Dan juga kelompok-kelompok yang gemar bertahazzub (bergolong-golongan) pada masa kini dengan berbagai macam alirannya, seperti contohnya: Jama’ah Hijrah wa Takfir yang menganut aliran Khawarij; yang dampak negatif ulah mereka telah menyebar kemana-mana (yaitu dengan maraknya pengeboman dan pemberontakan kepada penguasa, red), Jama’ah Tabligh dari India yang menganut aliran Sufi, Jama’ah-jama’ah Jihad yang mereka ini termasuk pengusung paham Khawarij tulen, kelompok al-Jaz’arah, begitu juga (gerakan) al-Ikhwan al-Muslimun baik di tingkat internasional maupun di kawasan regional (bacalah buku Menyingkap Syubhat dan Kerancuan Ikhwanul Muslimin karya Ustadz Andy Abu Thalib Al Atsary hafizhahullah). Sebagian di antara mereka (Ikhwanul Muslimin) ada juga yang tumbuh berkembang menjadi beberapa Jama’ah Takfiri (yang mudah mengkafirkan orang). Dan kelompok-kelompok sesat selain mereka masih banyak lagi.” (lihat al-Is’ad fii Syarhi Lum’atul I’tiqad, hal. 91-92, bagi yang ingin menelaah lebih dalam tentang hakikat dan bahaya di balik jama’ah-jama’ah yang ada silakan membaca buku ‘Jama’ah-Jama’ah Islam’ karya Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali hafizhahullah)
Read More...

Jumat, 10 Juni 2011

GARIS PEMISAH ANTARA DAKWAH SALAFIYAH (SALAFI) DAN DAKWAH HIZBIYAH HARAKAH (IKHWANUL MUSLIMIN aka IKHWANI)

Oleh Syaikh Abu Abdussalam Hasan bin Qasim al-Hasani ar-Riimi



HAKIKAT DAKWAH



♥ Dakwah Salafiyah

Berdakwah kepada al-Kitab (al-Qur’an) dan as-Sunnah sesuai dengan pemahaman salaful ummah, yaitu dakwah kepada manhaj yang ma’shum (terbebas dari kesalahan) manhajnya salafush shalih dari kalangan sahabat, tabi’in dan generasi yang utama.





♥ Dakwah Ikhwanul Muslimin

Berdakwah kepada perorangan/ tokoh tertentu atau dakwah yang dinisbatkan kepada Hasan al-Banna as-Shufi, dan ini merupakan dakwah yang baru, yang umurnya tidak lebih dari tujuh puluh tahun.[2]



PEMIKIRAN



♥ Dakwah Salafiyah

Mereka adalah Ahlussunnah karena mereka mengambil sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka tidak mendahulukan pendapat siapapun di atas sunnah beliau. Kitab-kitab mereka sebagai saksinya. Sebagai contoh lihatlah kitab as-Sunnah oleh al-Khallal, as-Sunnah oleh Ibnu Abi ‘Ashim, dll. Mereka adalah Jama’ah karena mereka bersatu di atas Sunnah.





♥ Dakwah Ikhwanul Muslimin

Pemikiran dakwah mereka adalah hasil kolaborasi antara dakwah salafiyyah (ala mereka), metode suniyyah (menurut prasangka mereka) dan hakekat shufiyyah (dan inilah intinya).



PENDIRI



♥ Dakwah Salafiyah

Rasulullah Muhammad bin Abdillah ‘alaihishshalatu was salam.





♥ Dakwah Ikhwanul Muslimin

Hasan al-Banna as-Shufi.



TOKOH-TOKOHNYA



♥ Dakwah Salafiyah

Abu Bakar as-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Thalhah bin Ubaidillah, Abdurrahman bin Auf, Said bin Zaid, Aisyah, Hafshah, Anas bin Malik, Abu Hurairah, Abu Musa al-Asyari, Abdullah bin Mas’ud, dan selain mereka (dari kalangan para sahabat), kemudian al-Hasan al-Basri, Muhammad bin Sirrin, Said bin Jubair, Said bin al-Musayyib, dan selain mereka (dari kalangan para tabi’in), kemudian Malik bin Anas, al-Auza’i, as-Syafi’i, Yahya al-Qathan, Bukhari, Muslim, Abu Dawud, an-Nasa’i, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim, Muhammad bin Abdul Wahhab, dan selain mereka, dan pada zaman kita sekarang ini seperti syaikh Abdul Aziz bin Baaz, syaikh al-Albani, syaikh Shalih al-Fauzan, syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, syaikh Muqbil al-Wadi’i, syaikh Rabi’ al-Madkhali, dan selain mereka dari orang-orang yang menempuh jalan mereka.





♥ Dakwah Ikhwanul Muslimin

Hasan al-Banna as-Shufi, Umar at-Tilimsani yang menganggap remeh masalah berdo’a kepada kubur, Hasan al-Hudhaibi yang berusaha mendekatkan antara sunnah dengan Syi’ah, Hamid Abu Nashr, Muhammad Ghazali al-Mu’tazili, Fathi Yakan yang mencela salafiyyin, Musthafa as-Siba’i yang telah menyenandungkan qashidah di depan kuburan rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk meminta kesembuhan dan ia juga berusaha untuk mendekatkan antara sunnah dengan Syi’ah, dan di zaman ini adalah az-Zindani yang telah menghadiri pertemuan persatuan antaragama, dan ia juga pembela system demokrasi.



AL-WALA’ WAL BARA’ (LOYALITAS DAN KEBENCIAN)



♥ Dakwah Salafiyah

Siapa saja yang memiliki aqidah seperti para ulama salaf, dan mengamalkan apa yang mereka tulis di kitab-kitab mereka dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka ia adalah saudara mereka (salafiyyin) dan kekasih bagi mereka dimanapun mereka berada di muka bumi ini. Akan tinggi derajat seseorang di sisi mereka karena ketakwaannya dan sebaliknya akan rendah pula karena penyelisihannya terhadap al-Kitab dan as-Sunnah.





♥ Dakwah Ikhwanul Muslimin

Mereka menetapkan al-Wala’ wal bara’ di dalam diri tokoh-tokoh mereka dan pemimpin mereka, walaupun tokoh dan pemimpin mereka tersebut sangat besar penyilisihannya terhadap al-Kitab dan as-Sunnah. Maka, barangsiapa yang bergabung bersama mereka maka ia memiliki gelar yang berkilau walaupun ahli khurafat. Dan barangsiapa yang tidak bergabung bersama mereka maka ia diolok-olok, meskipun dari kalangan ulama rabbaniyyin. Dan jika mereka melihat ada di antara mereka yang belajar kepada Ahlussunnah, maka mereka akan memboikot dan mentahdzirnya –memperingatkan agar manusia waspada terhadapnya-setelah ia tidak mau menerima tipudaya (seruan) mereka.



DI ANTARA DAKWAH-DAKWAH INI MANAKAH YANG MASUK DALAM KATEGORI FIRQAH AN-NAJIYAH (GOLONGAN YANG SELAMAT)



♥ Dakwah Salafiyah

Dakwah inilah yang masuk kategori firqah an-Najiyah –insya Allah-, yang demikian karena dakwah ini selamat dari terjerumus ke dalam bid’ah dan hal-hal yang baru dalam masalah agama di dunia ini, dan selamat pula dari adzab Allah Subhanahu wata’ala di akhirat kelak insya Allah. Karena dakwah ini benar-benar jujur dalam ittiba’ (mengikuti) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.





♥ Dakwah Ikhwanul Muslimin

Dakwah ini termasuk kelompok-kelompok sesat yang menyelisihi dakwahnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, demikian itu karena mereka melakukan bid’ah di dunia ini maka ditakutkan akan terkena adzab Allah di akhirat kelak.



DI ANTARA DAKWAH-DAKWAH INI MANAKAH YANG BERHAK DINISBATKAN SEBAGAI AHLI HADITS



♥ Dakwah Salafiyah

Pengemban dakwah salafiyyahlah yang berhak dinisbatkan sebagai ahli hadits daripada pengemban dakwah lainnya. Hal ini karena ahli hadits jika disebutkan secara mutlak pada zaman Imam Ahmad maka yang dimaksud adalah mereka yang tersibukkan dalam mempelajari hadits baik dari segi riwayah[3] maupun dirayah[4]. Karena pada umumnya yang demikian itu pada zaman Imam Ahmad adalah Ahlussunnah. Tetapi jika disebutkan secara mutlak (tanpa perincian zaman) maka yang dimaksud ahli hadits adalah mereka yang berhadapan dengan ahli bid’ah. Adapun pada zaman ini maka yang dimaksud ahli hadits adalah siapa saja yang beraqidah dengan aqidahnya ahli hadits, akan tetapi jika ia berkecimpung dalam kesibukan mempelajari ilmu hadits baik riwayah maupun dirayah maka itu kebaikan di atas kebaikan.





♥ Dakwah Ikhwanul Muslimin

Mereka tidak berhak disebut sebagai ahli hadits. Karena banyaknya penyelisihan mereka terhadap ahli hadits dalam berbagai perkara dari pokok-pokok aqidah. Yang saya maksud adalah manhaj yang mereka tempuh menyelisihi manhajnya ahli hadits. Adapun perindividunya maka itu sesuai dengan keadaan masing-masing.



PADA SIAPAKAH TERGAMBAR DAKWAH-DAKWAH INI



♥ Dakwah Salafiyah

Dakwah ini tergambar pada at-Thaifah al-Manshurah (golongan yang ditolong oleh Allah) yang dikatakan oleh Imam Ahmad bahwa mereka adalah ahli hadits. Dan mereka di zaman sekarang ini adalah siapa saja yang beraqidah dengan aqidahnya ahli hadits yang sesuai dengan aqidahnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya, akan tetapi jika ia berkecimpung dalam kesibukan mempelajari ilmu hadits baik riwayah dan dirayah maka itu kebaikan di ata kebaikan.





♥ Dakwah Ikhwanul Muslimin

Dakwah ini tergambar pada setiap kelompok (sesat) dari Asy’ariyah (pengikut kelompok Asy’ariyah), Shufyiyah (pengikut aliran Tashawuf), Rafidhiyyah (pengikut Syi’ah), Mufawwidiyyah (pengikut aliran yang tidak mau memehami ayat-ayat atau hadits-hadits tentang sifat), dan Quburiyyah (pengkultusan kuburan).



MANAKAH DI ANTARA DAKWAH-DAKWAH INI YANG LEBIH UTAMA BERADA DALAM KEBENARAN



♥ Dakwah Salafiyah

Tidak diragukan lagi bahwa inilah yang lebih utama berada dalam kebenaran, tidaklah dikatakan demikian selainkan karena dakwah ini menjadikan al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai manhajnya, dan menjadikan jalannya salafush shalih sebagai pelita yang menerangi mereka. Karena inilah, dakwah ini lebih utama berada dalam kebenaran daripada dakwah-dakwah yang lain. Lihat Majmu’ Fatawa syaikhul Islam Ibnu Taimiyah jilid I/4.





♥ Dakwah Ikhwanul Muslimin

Tidaklah kebenaran bersekutu dengan mereka, tidaklah dikatakan demikian melainkan karena manhaj dakwah ini dibangun di atas bid’ah dan penyelisihan terhadap manhaj salafush shalih dari kalangan sahabat dan tabi’in.



APAKAH DAKWAH-DAKWAH INI BERMAKNA HIZBIYYAH (GOLONGAN)



♥ Dakwah Salafiyah

Dakwah salafiyyah bukanlah sebuah golongan jika ditinjau dari penegrtian pada zaman ini, yaitu yang berdiri memiliki keanggotaan, dewan-dewan anggota, pendiri-pendiri, dan menetapkan al-wala’ wal bara’ berdasarkan bendera-bendera hizbiyyah atau yang serupa dengannya. Tapi dakwah salafiyyah merupakan sebuah golongan jika ditinjau sebatas makna bahasa. Yaitu mereka adalah sebuah kelompok yang berkumpul di atas al-Qur’an dan as-Sunnah sesuai dengan pemahaman salaful ummah, mereka adalah yang dimisalkan sebagai hakikat dari gholongan Allah. Allah Subhanahu wata’ala berfirman (yang artinya):

“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allahlah yang beruntung.” (Q.S. al-Mujadillah: 22)





♥ Dakwah Ikhwanul Muslimin

Mereka merupakan sebuah golongan yang tercela yang sesuai dengan makna istilah, yang telah ada nash-nash yang memperingatkan akan kemunculannya, mereka memiliki pendiri-pendiri selain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, memiliki keanggotaan, dewan-dewan pengurus, susunan-susunan rahasia, dan yang serupa dengannya dari penetapan al-wala’ wal bara’ berdasarkan bendera-bendera hizbiyyah di dalam diri tokoh-tokoh mereka.



APA TUJUAN YANG DIUSAHAKAN OLEH DAKWAH-DAKWAH INI



♥ Dakwah Salafiyah

Dakwah salafiyyah berusaha untuk menegakkan agama Allah di muka bumi ini baik aqidah, ibadah, perilaku/ akhlak, penegakkan syari’at, dan ittiba’ (mengikuti) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan dengan cara inilah akan tegak Daulah Islamiyyah (pemerintahan Islam).Allah berfirman (yang artinya):

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku.” (Q.S. An-Nur: 55)





♥ Dakwah Ikhwanul Muslimin

Tidaklah dakwah ini berdiri kecuali berusaha untuk mendapatkan kekuasaan. Maka ini adalah dakwah politik, karena inilah berkumpul di dalamnya siapa saja yang ingin menempuh jalan bersama mereka yang akan mengantarkan kepada tujuan yang mereka angan-angankan, maka sebagaimana sebuah perkataan (yang artinya):

“Yang tidak memiliki maka ia tidak bisa memberi”.





Catatan Kaki:

[1] Diterjemahkan oleh Fachri bin Komari dengan koreksi Ust. Abdurrahman Tahyyib, Lc. dari risalah yang berjudul Ithaaful Maharah bil Muqaaranah al-Mukhtasharah Bainal Firaq al-Mu’asirah hal. 15-20.

[2] Ini pada saat ditulisnya makalah ini. Adapun sekarang kurang lebih sudah berusia 80 tahun, karena Ikhwanul Muslimin didirikan pada tahun 1346 H. (Ed)

[3] Ilmu Riwayah: satu macam ilmu tentang meriwayatkan sabda-sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, perbuatan-perbuatannya, taqrir-taqrirnya dan sifat-sifatnya. (Pengantar Ilmu Mushthalahul Hadits hal. 174 oleh: Ust. Abdul hakim Abdat) –(pent).

[4] Ilmu Dirayah: satu macam ilmu yang berbicara tentang qawaa’id (kaidah-kaidah atau dasar-dasar) yang dengannya dapat diketahui sah atau tidaknya sesuatu hadits tersebut yang orang sandarkan kepada Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wasallam (Pengantar Ilmu Mushthalahul Hadits hal. 180 oleh: Ust. Abdul hakim Abdat)
Read More...

Minggu, 10 Oktober 2010

SYAIR AQIDAH MUSLIM

Jika pengikut Ahmad (Muhammad) adalah Wahhabi, Maka aku akui bahwa diriku adalah Wahhabi.



Kutiadakan sekutu bagi Tuhan Maka tak ada Tuhan bagiku selain Yang Maha Esa dan Maha Pemberi.



Tak ada kubah yang bisa diharap, tidak pula berhala Dan kuburan tidaklah sebab di antara penyebab.



Tidak! Sama sekali tidak! tidak pula batu, pohon, mata air, atau patung-patung.Juga aku tidak mengalungkan jimat, tali-temali, rumah kerang, atau taring untuk mengharap manfaat atau menolak bala.



Allah yang memberiku manfaat dan menolak bahaya dariku. Adapun bid’ah dan segala perkara yang diada-adakan dalam agama maka orang-orang berakal mengingkarinya.



Aku berharap, semoga aku tidak akan mendekatinya

Tidak pula kurela secara agama Ia tidak benar.



Dan aku berlindung dari Jahmiyah. Darinyalah setiap ahli takwil dan peragu-ragu yang memunculkan penyelisihan tentang Istiwa’

Cukuplah bagiku teladan dari ucapan para pemimpin yang mulia; Syafi’i, Malik, Abu Hanifah, Ibnu Hanbal dan orang yang bertakwa dan ahli bertaubat.



Dan pada zaman kita ini, siapa yang datang membawa aqidah yang demikian, Orang-orang menjulukinya, Mujassim Wahhabi

Telah ada hadits tentang keterasingan Islam Maka hendaknya para pencinta menangis karena terasingnya orang-orang tercinta.

Allah yang melindungi kita, yang menjaga agama kita Dari kejahatan setiap pembangkang dan pencela.



Dia menguatkan agama-Nya yang lurus Dengan sekelompok orang yang berpegang teguh dengan sunnah dan kitab-Nya.

Mereka tidak mengambil hukum lewat pendapat dan qiyas sedang kepada para ahli wahyu,Mereka sebaik-baik orang yang kembali. Sang Nabi terpilih telah mengabarkan tentang mereka



Bahwa mereka adalah orang-orang yang asing Di tengah keluarga dan kawan pergaulannya.

Mereka menapaki jalan orang-orang yang menuju petunjuk Dan berjalan di atas jalan mereka dengan benar.



Karena itu, orang-orang yang suka berlebihan, berlari dan menjauh dari mereka.



Tapi kita berkata…. Tidak aneh.



Telah lari pula orang yang diseru oleh sebaik-baik manusia,bahkan menjulukinya sebagai tukang sihir lagi pendusta.



Padahal mereka mengetahui,betapa beliau seorang yang teguh memegang amanah dan janji Mulia dan jujur menepati.



Semoga keberkahan atasnya selama angin masih berhembus juga atas semua keluarga dan sahabatnya.
Read More...